Category Archives: KUMPULAN TEORI

Kumpulan teori perilaku organisasi, manajemen sdm, budaya organisasi, dan lainnya

PERBEDAAN HASIL QUICK COUNT PILPRES 2014

PERBEDAAN HASIL QUICK COUNT PILPRES 2014

Hendryadi

Adanya perbedaan hasil versi hitung cepat Lembaga-lembaga Survey pada Pilpres 2014 ini tidak perlu dikomentari berlebihan apalagi menuduh kelompok A or B tidak kredibel, tidak akurat, etc. Karena pada dasarnya, metode ilmiah yang dipergunakan sebagai dasar prosedur hitung cepat itu tetap memiliki kelemahan. Bahkan, setenar apapun lembaga yang melakukan riset tidak menjamin bahwa hasil yang diperoleh benar-benar memiliki akurasi 100% pada hasil real count versi KPU.

Dalam hal ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melakukan tindakan tepat dan memerintahkan seluruh lembaga penyiaran untuk menghentikan siaran hitung cepat atau quick count, real count, klaim kemenangan, dan ucapan selamat sepihak kepada kedua pasangan capres-cawapres. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak tersesat dalam informasi yang belum pasti. (lihat sumber)

Jadi, mari kita sama-sama mengawal dan menunggu hasil rekapitulasi versi KPU tanpa harus saling menyalahkan dan atau merasa paling benar.

Sumber :

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2076655/kpi-larang-lembaga-penyiaran-tayangkan-hasil-quick-count#sthash.N6MxZpxG.dpuf

Indikator kepemimpinan transformasional

Indikator Kepemimpinan Transformasional

Oleh : Hendryadi

Idealized Influence  (karisma). Pemimpin menampilkan keyakinan, menekankan kepercayaan, mengambil isu-isu yang sulit, menyajikan nilai-nilai mereka yang paling penting, dan menekankan pentingnya tujuan, komitmen, dan konsekuensi etis dari keputusan. Pemimpin seperti dikagumi sebagai pembangkit panutan kebanggaan, loyalitas, kepercayaan, dan keselarasan sekitar tujuan bersama.

Motivasi inspirasional. Pemimpin mengartikulasikan visi menarik dari masa depan, menantang pengikut dengan standar yang tinggi, berbicara optimis dengan antusias, dan memberikan dorongan dan makna untuk apa yang perlu dilakukan.

Stimulasi intelektual. Pemimpin mempertanyakan cara lama, tradisi, dan keyakinan, merangsang perspektif baru dan cara melakukan sesuatu, dan mendorong ekspresi ide dari bawahan.

Pertimbangan Individual. Pemimpin berhubungan dengan orang lain (bawahan)  secara personal, mempertimbangkan kebutuhan mereka, kemampuan, dan aspirasi, mendengarkan dengan penuh perhatian, pengembangan lebih lanjut mereka, menasihati, mengajar dan melatih.

Sumber :

Bass, B.M. (1997), “Does the transactional-transformational leadership paradigm transcend organisational and national boundaries”, American Psychologist, Vol. 52 No.2, pp.130-9.

Cheok San Lam, Eleanor R.E. O’Higgins, (2012) “Enhancing employee outcomes: The interrelated influences of managers’ emotional intelligence and leadership style”, Leadership & Organization Development Journal, Vol. 33 Iss: 2, pp.149 – 174

Draft Buku : METODE RISET KUANTITATIF Teori dan Aplikasi pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam

Draft buku masih dalam proses penerbitan.

METODE RISET KUANTITATIF
Teori dan Aplikasi pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam

Penulis : Suryani & Hendryadi

Sinopsis :

Materi pokok pada Bagian pertama buku mencakup kajian tentang hakikat ilmu pengetahuan, metode penelitian ekonomi Islam, penentuan topic dan masalah penelitian, menyusun kerangka teoritis dan hipotesis, desain penelitian, pengukuran variabel, metode pengumpulan data, populasi dan sampel, teknik analisis data dan membuata proposal dan laporan akhir penelitian. Di Bagian kedua buku terdiri dari 4 materi pokok yaitu validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, analisis uji beda, dan analisis multivariate lainnya yang dilengkapi dengan studi kasus dan penyelesaiannya menggunakannya SPSS.

Read the rest of this entry

Teori Motivasi Kebutuhan McClelland

Oleh : Hendry

Teori kebutuhan McClelland (McClelland’s Theory of needs) dikembangkan oleh David McClelland dan rekan-rekannya. Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan  yaitu kebutuhan pencapaian (need for achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan hubungan (need for affiliation).

Konsep Teori Kebutuhan McClelland
Teori kebutuhan McClelland menyatakan bahwa pencapaian, kekuasaan/kekuatan dan hubungan merupakan tiga kebutuhan penting yang dapat membantu menjelaskan motivasi. Kebutuhan pencapaian merupakan dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, dan berjuang untuk berhasil. Kebutuhan kekuatan dapat membuat orang lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya, dan kebutuhan hubungan merupakan keinginan antarpersonal yang ramah dan akrab dalam lingkungan organisasi.

Bagaimana Kebutuhan-kebutuhan ini mempengaruhi Perilaku ?
McClelland menjelaskan bahwa setiap individu memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil. Dorongan ini mengarahkan individu untuk berjuang lebih keras untuk memperoleh pencapaian pribadi ketimbang memperoleh penghargaan. Hal ini kemudian menyebabkan ia melakukan sesuatu yang lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Dorong pertama ini dapat disebut sebagai nAch yaitu kebutuhan akan pencapaian.

Kebutuhan kekuatan (nPow) merupakan keinginan untuk memiliki pengaruh, menjadi yang berpengaruh, dan mengendalikan individu lain. Dalam bahasa sederhana, ini adalah kebutuhan atas kekuasaan dan otonomi. Individu dengan nPow tinggi, lebih suka bertanggung jawab, berjuang untuk mempengaruhi individu lain, senang ditempatkan dalam situasi kompetitif, dan berorientasi pada status, dan lebih cenderung lebih khawatir dengan wibawa dan pengaruh yang didapatkan ketimbang kinerja yang efektif.

Selengkapnya

 

teorionline.net : Situational Leadership Hersey-Blanchard

by Hendry

Abstrak

Tidak jauh berbeda dengan model kepemimpinan situasional yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu Path Goal Theory of Leadership (kepemimpinan jalur tujuan) yang berusaha memprediksi keefektifan kepemimpinan dalam berbagai situasi, Hersey dan Blachard mengembangkan model kepemimpinan situasional yang lebih dikenal dengan istilah situational leaderhip model (SLM).

Model kepemimpinan situasional ketiga dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard. Robbins dan Judge (2007) menyatakan bahwa pada dasarnya pendekatan kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard mengidentifikasi empat perilaku kepemimpinan yang khusus dari sangat direktif, partisipatif, supportif sampai laissez-faire. Perilaku mana yang paling efektif tergantung pada kemampuan dan kesiapan pengikut. Sedangkan kesiapan dalam konteks ini adalah merujuk pada sampai dimana pengikut memiliki kemampuan dan kesediaan untuk menyelesaikan tugas tertentu.

Situasional Leadership

Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif. Dalam “situational leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat. Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada. Empat dimensi situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan seorang.

Download Document
pdf3

Google Pagerank Update November 2012

Belum lama saya buat tulisan (dibulan Agustus) mengenai Update Google Pagerank blog ini yang dari Februari 2012 naik menjadi 2.

Gak sengaja..hari ini lihat ternyata blog ini sudah memiliki pagerank 4…wow…

Hmm…jadi semakin semangat untuk menulis….

Pagerank Teorionline.net

Tak kalah heran (sekaligus senang…) web teorionline.net yang baru saya buat di bulan September 2012 sudah dihadiahi page rank 3 oleh Google…

Padahal jika dilihat dari jumlah pageviewsnya masih kurang dari 1000 per hari..no trik SEO macem-macem…cuma upload tulisan apa adanya…

 

 

 

Manager Terbaik

Selingan :

MANAGER TERBAIK

Seorang manager area A menyajikan sebuah grafik yang memperlihatkan tingkat pertumbuhan penjualan dalam 1 tahun di wiliayah mereka kepada Direktur Pemasaran. Data-data yang disajikan sangat spektakuler, dimana penjualan terlihat memiliki tren positif selama 1 tahun terakhir. Tidak hanya menyajikan data penjualan wilayah mereka, sang manager juga membandingkan tren penjualan mereka dengan wilayah B.

Read the rest of this entry

Logika Statistika

Logika statistika sering disebut sebagai logika induktif yang tidak memberikan kepastian, namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan mungkin benar dan mungkin juga salah.

Langkah-langlah yang ditempuh dalam logika induktif meliputi :

  1. Observasi dan eksperimen
  2. Munculnya hipotesis ilmiah
  3. Verifikasi dan pengukuhan, yang berakhir pada :
  4. Sebuah teori dan hukum ilmiah

Perbedaan Logika Induktif dengan Logika Deduktif

Penarikan kesimpulan induktif memiliki perbedaan mendasar dengan logika deduktif (seperti matematika). Dalam penalaran deduktif kesimpulan yang ditarik adalah benar jika premis-premis yang dipergunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah.

Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premis yang digunakannya adalah benar dan prosedur yang digunakan adalah adalah sah, maka kesimpulannya belum tentu benar. Yang dapat dikatakan adalah bahwa kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar.  Dapat dinyatakan bahwa dasar dari statistika adalah ilmu peluang. Ilmu peluang sendiri adalah cabang dari matematika, sedangkan statistika merupakan disiplin ilmu tersendiri.

Tulisan terkait :

Sejarah Awal Statistika

 

Materi Referensi :

Sumarna, C. (2004). Filsafat Ilmu : dari Hakikat menuju nilai. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Suriasumantri, J.S. (2003). Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

HIPOTESIS TIDAK TERDUKUNG, MENGAPA ?

HASIL PENELITIAN TIDAK SIGNIFIKAN

Sangat sering saya mendengar keluhan mengenai tidak signifikannya hasil penelitian. Beberapa bertanya “apakah boleh jika hasil penelitian tidak berhasil membuktikan teori”

Read the rest of this entry

Teori Nilai

Nilai (Value) Individu

Oleh : Hendry

Abstract

Nilai dan teori nilai merupakan gabungan dari berbagai bidang keilmuan seperti filsafat, etika, atau manajemen. Pendekatan pertama, dilakukan oleh M.J. Langeveld dalam tulisannya “menuju pemikiran filsafat” tahun 1957. Langeveld membahas mengenai teori nilai dan etika dalam Bab VII bukunya.

Nilai atau value didefinisikan sebagai alasan dasar bahwa “cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan dengan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan (Rokeach, 1973, dalam Robbins, 2007).

Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seseorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik dan diinginkan. Nilai memiliki sifat isi dan intensitas. Sifat isi menyampaikan bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir dari kehidupan adalah penting. Sifat intensitas menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut.

Definisi Nilai

Meglino dan Ravlin [1998] mendefinisikan nilai sebagai keyakinan tentang diinternalisasi sesuai perilaku, ini dampak (antara lain) bagaimana seorang individu menafsirkan informasi. para penulis melakukan kajian komprehensif dari literatur dan mengusulkan kerangka kerja untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi ada nilai penelitian, menunjukkan sifat iteratif nilai-nilai dan cara bahwa nilai-nilai dapat mempengaruhi baik persepsi dan perilaku.

Read the rest of this entry

Teori Kepemimpinan Karismatik

Charismatic Leadership

Individu seperti John F. Kennedy, Winston Churchill, Warrant Buffet, dan Soekarno memiliki daya tarik tersendiri sehingga mereka mampu melakukan sesuatu yang berbeda terhadap pengikutnya. Pemimpin seperti ini biasanya disebut sebagai pemimpin karismatik. Max Weber menyebutkan bahwa beberapa pemimpin memiliki anugerah berupa kualitas yang luas biasa atau karisma yang membuat mereka mampu memotivasi pengikutnya untuk mencapai kinerja yang luar biasa.

Di Indonesia, tokoh Soekarno merupakah salah satu contoh pemimpin karismatik yang sulit ditemui lagi di masa sekarang. Kemampuan Soekarno menggerakkan, mempengaruhi, dan berdiplomasi telah menyatukan berbagai suku, agama, golongan menjadi satu kesatuan yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Artikel ini tidak akan membahas secara spesifik mengenai Soekarno, tapi lebih menguraikan secara umum mengenai pemimpin karismatik.

Read the rest of this entry

TEORI JALUR TUJUAN KEPEMIMPINAN

Path Goal theory (teori jalur tujuan) dari kepemimpinan telah dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana perilaku seorang pemimpin mempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahannya. Teori ini pertama kali diungkapkan oleh Evans (1970) dan House (1971). House (1971) memformulasikan teori ini dengan versi yang lebih teliti dengan menyertakan variabel situasional. Teori tersebut semakin dimurnikan oleh beberapa penulis seperti Evans (1974); House dan Dessler (1974); House dan Mitchell (1974; dan House (1996).

Read the rest of this entry

Google Update Agustus 2012

Google Update Pagerank Agustus 2012

Setelah sebelumnya di bulan Februari Blog ini mendapat hadiah PR 1 dari Google, dibulan Agustus ini ternyata Blog ini mendapat hadiah PR 2.

Untuk ukuran amatir seperti saya..PR ini sudah cukup memuaskan…jadi semakin semangat

Yang mau cek PR nya silahkan ke

http://www.checkpagerank.net/

atau

http://www.mypagerank.net/service_pagerankbutton_index

INTRAPRENEURSHIP

Konsep Intrapreneurship

Intrapreneurship adalah kewirausahaan (entrepreneurship) dalam perusahaan (enterprenership inside of the organization) atau dapat dikatakan bahwa intrapreneurship adalah entrepreneuship yang ada di dalam perusahaan. Konsep intrapreneurship pertama muncul pada tahun 1973 oleh Susbauer dalam tulisannya yang berjudul “Intracoporate Enterpreneurship : Programs in American Industry”, dan kemudian dipopulerkan oleh Pinchott (1985) dan Burgelman (2007) dalam disertasinya.

Princhott (1985) mendefinisikan seorang intrapreneur adalah seorang yang memfokuskan pada inovasi dan kreativitas dan yang mentransformasi suatu mimpi atau gagasan menjadi usaha yang menguntungkan yang dioperasikannya dalam lingkup lingkungan perusahaan. Oleh karena itu, agar sukses intrapreneurship harus diimplementasikan dalam strategi perusahaan (Dalam Budiharjo, 2011:152).

Asef Karimi, dkk (2011) menyebutkan bahwa Intrapreneurship berakar pada kewirausahaan (Amo dan Kolvereid, 2005; Antoncic, 2001; Davis, 1999; Honig, 2001), ada beberapa perbedaan antara intrapreneurship dan kewirausahaan. Pertama semua, intrapreneur membuat keputusan berisiko menggunakan sumber daya perusahaan. untuk melakukannya, pengusaha menggunakan sumber daya mereka sendiri (Antoncic dan Hisrich, 2001; Luchsinger dan Bagby, 1987; Morris et al, 2008). Kedua, intrapreneurship terjadi di antara karyawan dari dalam organisasi mereka, sedangkan kewirausahaan cenderung terutama secara eksternal terfokus (Amo dan Kolvereid, 2005; Antoncic, 2001; Antoncic dan Hisrich, 2001; Davis, 1999; Luchsinger dan Bagby, 1987).

Lebih lanjut Asef Karimi, dkk (2011) menyebutkan bahwa sepertiga dari semua, pengusaha lebih memilih untuk mengembangkan pengetahuan tacit dalam organisasi baru daripada menggunakan prosedur atau mekanisme dari perusahaan lain. Di sisi lain, intrapreneur bekerja dalam organisasi yang sudah memiliki politik mereka sendiri, bahasa, prosedur, dan birokrasi (Antoncic, 2001; Antoncic dan Hisrich, 2001; Davis, 1999; Honig, 2001).

Meskipun kewirausahaan dan intrapreneurship memiliki perbedaan penting, mereka juga memiliki beberapa koneksi karena intrapreneurship secara konsisten diposisikan sebagai kewirausahaan dalam organisasi (Antoncic, 2001; Davis, 1999, dalam Asef Karimi, dkk, 2011).

Faktor Pendorong Intrapreneurship

Antonic (2007) yang dikutip Budiharjo (2011) menyebutkan antesenden intrapreneurship dibagi menjadi dua yaitu lingkungan (environment) dan organisasi (organization).

  1. Faktor lingkungan yang positif meliputi dinamisme peluang teknologi, pertumbuhan industry, dan permintaan untuk produk baru, sedangkan antesenden untuk lingkungan yang tidak dikehendaki meliputi perubahan yang tidak dikehendaki dan persaingan yang tinggi.
  2. Dari sisi organisasi, karakteristik organisasi yang dapat mendorong intrapreneurship adalah system terbuka, kendali formal pada aktivitas intrapreneurship, pemindahan intensif pada lingkungan, dukungan organisasional, dan nilai-nilai perusahaan. Dalam penelitiannya, Antonic (2007) membuktikan bahwa intrapreneurship berkorelasi secara positif dengan pertumbuhan (company growth), dan dibuktikan pula bahwa dimensi lingkungan dan karakteristik organanisasi (organization characteristics) berkorelasi positif dengan intrapreneurship.

Selengkapnya di teorionline.net

Model ServQual

Model Servqual yang dikembangkan oleh Parasuraman (1985, 1988) terdiri dari 5 (lima) sub variabel yaitu :

  1. Tangibles atau bukti fisik, yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal.
  2. Reliability atau keandalan, yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanaan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
  3. Responsiveness atau daya tanggap, yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan dengan memberikan informasi yang jelas.
  4. Assurance atau jaminan dan kepastian, yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan karyawan perusahaan dalam menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan.
  5. Empathy yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen.