Category Archives: Jawaban Khusus

Mencari p value dengan Excel

Mencari p value dengan Excel

Oleh : Hendryadi

Banyak yang bertanya apakah mungkin penarikan kesimpulan pada penolakan Ho berdasarkan nilai t value dapat berbeda jika menggunakan nilai sig (p value). Jawabnya tentu saja tidak

Mengapa demikian ?

Karena menghitung p value itu didasarkan pada perhitungan t valuenya. Agar punya gambaran, berikut ini saya tampilkan contoh hasil regresi melalui SPSS

regresi

Read the rest of this entry

Advertisements

Jawaban Khusus 2nd CFA

Qustion :

Dear sir \ madam
Hello
I would like to ask about my Lisrel 8.80 student version why i can’t apply more than 12 items ??? in case i have 5 independent variables and only one dependent variable? please help me or explain for me how can i do it for Confirmatory Factor Analysis????

Please check this picture…

2nd CFA

Berapa Ukuran Sampel Untuk Ujicoba Instrumen

Pertanyaan yang juga sering ditanyakan adalah berapa ukuran sampel untuk ujicoba instrumen ?

Sejarah Uji Validitas

Evaluatif pertama dalam upaya untuk menentukan kesesuaian tes dimulai Guilford (1946).  Validitas kemudian memperoleh spesifikasi teoritis. Pada tahun 1949 Cronbach mengembangkan gagasan validitas logis dan empiris. Validitas logis disebut penilaian tentang apa langkah-langkah tes dan validitas empiris yang mengacu pada Guilford  (1946) melalui perbandingan statistik dari skor tes dengan langkah-langkah yang sama. Pada tahun 1954 Anastasi memberikan kategori validitas dalam beberapa jenis, yaitu validitas tampang (face validity), konten (content validity), faktorial dan validitas empiris yang tetap mempertahankan perbedaan antara metode logis dan empiris dalam menentukan validitas.

Pada tahun yang sama, Rekomendasi Teknis (APA, 1954) membagi empat jenis validitas (yaitu, konten, prediksi, bersamaan, dan validitas konstak (content, predictive, concurrent, and construct validities). Keempat jenis ini kemudian dikurangi menjadi tiga dengan kombinasi validitas prediktif dan kriteria (APA, 1966).

Ukuran Sampel Untuk Uji Validitas

Salgado (1998) dalam kajiannya menyebutkan bahwa ukuran sampel merupakan masalah pertama dalam melakukan proses validasi karena kesulitan dalam memperoleh sampel dengan jumlah yang sesuai. Ghiselli (1973) dalam tulisannya menemukan banyak sampel dengan kurang dari 50 peserta. Namun, penelitian yang paling relevan pada ukuran sampel dalam studi validitas dilakukan dengan Lent, Auerbach & Levin (1971). Para peneliti, menyusun studi validitas yang diterbitkan antara 1954 dan 1969, menunjukkan bahwa rata-rata ukuran sampel hanya 68 peserta. Dalam sebuah penelitian tulisan yang lebih baru, Monahan & Muchinsky (1983), dengan menggunakan artikel yang diterbitkan dalam jurnal Psychology Personil antara tahun 1950 dan 1979, menemukan bahwa ukuran rata-rata sampel  berkisar 58-125 peserta, dengan rata-rata 88 dan standar deviasi berkisar antara 31 ke 173. Selanjutnya, dalam 60 persen dari studi yang dilakukan pada tahun 1960 dan 1970-an memiliki ukuran sampel kurang dari 100 peserta (Salgado, 1998) .

Pendapat Ahli

Nunnally (1994) merekomendasikan 10 x jumlah item untuk penggunaan analisis faktor.  Sapnas dan Zeller (2002) berpendapat bahwa ukuran sampel 50 cukup memadai untuk mengevaluasi sifat psikometrik pada ukuran konstruk sosial. Thompson, (2004) menyebutkan bahwa setidaknya 200 responden yang dijadikan  sampel untuk mencapai stabilitas melalui analisis faktor. Meyers, Gamst, Guarino, (2006) menunjukkan bahwa ukuran sampel yang sesuai tergantung pada jumlah item yang tersedia yaitu untuk 10 item diperlukan 200 sampel, 25 item diperlukan 250 sampel, 90 item dibutuhkan 400 sampel, dan seterusnya.

Review yang dilakukan oleh Anthoine, dkk (2014) pada sebuah instrumen di bidang kesehatan menyebutkan bahwa Validitas isi, validitas konstruk, validitas kriteria dan konsistensi internal yang paling umum digunakan dalam studi validasi. Dari 114 artikel yang direview,  sekitar 92% dari artikel melaporkan rasio sampel dan jumlah variabel lebih besar dari atau sama dengan 2, sedangkan 25% memiliki rasio lebih besar dari atau sama dengan 20. Sekitar 90% dari artikel memiliki ukuran sampel yang lebih besar dari atau sama dengan 100, sedangkan 7% memiliki ukuran sampel yang lebih besar dari atau sama dengan 1000

Kesimpulan

Dari berbagai tinjauan litelatur,  pedoman untuk menentukan berapa ukuran sampel yang digunakan untuk ujicoba instrumen (untuk menguji validitas dan reliabilitas) adalah didasarkan pada teknik analisis yang digunakan. Untuk menguji validitas konstrak, EFA maupun CFA, dibutuhkan minimal sampel 5 – 10 x jumlah item yang digunakan. Atau, untuk jumlah item kuesioner sebanyak 10, dapat menggunakan minimal 50 responden sebagai ujicoba.

 

Daftar Paper

Anthoine, E., Moret, L., Regnault, A., Sabille, V & Jean-Benoit Hardouin. Sample size used to validate a scale: a review of publications on newly-developed patient reported outcomes measures. Health and Quality of Life Outcomes 2014, 12:176

Beran, Tanya N. The role of validity in psychological measurement for school psychology applications. Canadian Journal of School Psychology18.1/2 (2003): 223-243

Mantilla, Jesús Miguel Rodríguez; Díaz, Ma José Fernández. Development and Validation of a Measuring Instrument for Burnout Syndrome in Teachers. The Spanish Journal of Psychology15.3 (2012): 1456-65.

Meyers, L.S., G. Gamst, A.J. Guarino, 2006. Applied Multivariate  Research:  Design  and  Interpretation. Sage Publications. Washington,  DC:  American Psychological Association

Nunnally, J. C., & Berstein, I. H. (1994). Psychometric theory (3rd ed.). New York, NY: McGraw-Hill

Salgado, Jesus F. Sample size in validity studies of personnel selection. Journal of Occupational and Organizational Psychology71 (Jun 1998): 161-164.

Sapnas, K. G., & Zeller, R. A. (2002). Minimizing sample size when using exploratory factor analysis for measurement. Journal of Nursing Measurement, 12(2), 97-109

Thompson,  B.  2004.  Exploratory  and  confirmatory factor analysis : Understanding  concepts  and applications. Washington,  DC:  American. Psychological Association

Apakah boleh variabel ini dijadikan intervening

Saya sering mendapat pertanyaan mengenai hal ini…”bolehkan menggunakan variabel ini sebagai intervening ?”, “apakah bisa variabel ini dijadikan variabel intervening ?”..etc

Yang mau saya jelaskan adalah penempatan sebuah variabel, entah itu sebagai variabel bebas, variabel terikat, moderator ataupun intervening basisnya adalah teori dan riset sebelumnya.

Saya analogikan model mediasi sederhana.

X –> M –> Y

Ada 3 hubungan yang harus diperoleh rujukannya yaitu :

1. Hubungan langsung X ke Y (X –> Y)

2. Hubungan langsung X ke M (X –> M)

3. Hubungan langsung M ke Y (M –> Y)

Jika tiga hubungan ini berhasil dikonfirmasi berdasarkan teori tertentu, atau penelitian sebelumnya, barulah bisa dikatakan bahwa variabel intervening tersebut dapat diuji

Kasus Real

Contoh Model Teorionline

Gambar di atas memperlihatkan sebuah model mediasi sederhana dimana kepuasan kerja (job satisfaction), komitmen (commitmen) dan intensi turnover (turnover intention) memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Dari manakah model ini berasal ?

Berdasarkan studi pustaka, diperoleh 4 paper yang menguji konsep yang sama, yaitu :

  • Aydogdu, Sinem; Asikgil, Baris. An Empirical Study of the Relationship Among Job Satisfaction, Organizational Commitment and Turnover Intention. International Review of Management and Marketing1.3 (2011): 43.
  • Reed, Sarah A; Kratchman, Stanley H; Strawser, Robert H. Job satisfaction, organizational commitment, and turnover intentions of United States accountants: The impact of locus of control and gender. Accounting, Auditing & Accountability Journal7.1 (1994): 31.
  • Tett, Robert P; Meyer, John P. Job satisfaction, organizational commitment, turnover intention, and turnover: Path analyses based on meta-analytical findings. Personnel Psychology46.2 (Summer 1993): 259.
  • ücel, Ilhami. Examining the Relationships among Job Satisfaction, Organizational Commitment, and Turnover Intention: An Empirical Study. International Journal of Business and Management7.20 (2012): 44-58.

Dari dasar 4 paper itulah, maka alasan penempatan komitmen sebagai intervening dapat dijelaskan..

Semoga membantu

Thanks

 

 

 

 

 

 

 

 

Konstanta Negatif ..Bagaimana ?

INTERCEPT / KONSTANTA NEGATIF

Banyak sekali pertanyaan mengenai konstanta/intercept negatif..apakah boleh or tidak dalam persamaan regresi. daripada ditanya terus, maka saya buat artikel tersendiri mengenai hal ini.

Persamaan regresi y = a + bx + e dimana : a = y-intercept;  b = slope of the line; e = error term

dimana : a = y-intercept;  b = slope of the line; e = error term

Read the rest of this entry

TEORI di BAB I, bolehkah ??

BOLEHKAH DI BAB I ADA TEORI ??

oleh : Hendry

Dosen              : Bab I gak boleh ada teori !…
Mahasiswa   : Kenapa Pak ?
Dosen              : Bab I itu hanya untuk uraian masalah….

 

Percakapan di atas adalah contoh. Ada yang bertanya ke saya…kenapa di bab 1 tidak boleh ada teori ?..

Saya kemudian menjawab, “kenapa gak boleh ??”

Begini ceritanya..(hmmm)

Clue sederhanya adalah : “permasalahan yang diuraikan di bab I itu tidak semata-mata dari fakta2 di lapangan, namun juga adanya gap antara teori dan fakta dilapangan, atau research gap antara satu peneliti dengan peneliti lainnya”.

Contoh : Penelitian Faktor yang mempengaruhi Turnover

Latar Belakang Masalah

paragraf 1
Turnover merupakan …..(teori 1). Beberapa aspek yang mempengaruhi turnover antara lain ..(teori 2)
 
Paragraf 2
PT. ABC adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan. Perusahaan ini……
 
Paragraf 3
Dalam upaya menurunkan turnover karyawannya, perusahaan ini telah memberikan besaran gaji di atas rata-rata perusahaan sejenis, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa turnover di perusahaan ini tetap tinggi.  Hal ini telah merugikan perusahaan karena harus…..
 
Paragraf 4
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari bagian kepegawaian, diperoleh data yang memperlihatkan tingginya turnover pegawai…(menguraikan fakta)
 
paragraf 5
Hasil wawancara awal diperoleh informasi yang menyebutkan banyaknya rekan kerja mereka yang keluar disebabkan perilaku pimpinan….(menguraikan data observasi awal)
 
Paragraf 6
Sejalan dengan permasalahan yang terjadi di lapangan, beberapa penelitian juga membuktikan bahwa….(menguraikan bukti empiris hasil penelitian terdahulu, beserta gap yang terjadi)
 
dst..
 

Kesimpulan

jadi menurut saya sudah jelas..bab I memang sebaiknya mencantumkan teori, karena sangat mustahil menjelaskan fakta yang terjadi di lapangan tanpa mengaitkannya dengan teori yang ada…

Sekian….

Jawaban untuk ANITA

Analisis faktor itu emang jenisnya ada dua eksplanatori dan konfirmatory. Perbedaan keduanya adalah eksplanatory digunakan untuk menyeleksi faktor mana yang dianggap dapat mewakili variabelnya, sementara konfirmatory untuk menguji validitas faktor.

Langkah ujinya relatif sama..hanya pada eksplanatory dilakukan rotasi dan membuang variabel yang memiliki loading faktor < 0.50

Contoh saya di atas itu adalah konfirmatory karena merujuk teori tertentu (maka tujuannya adalah mengkonfirmasi), dan tidak dilakukan rotasi untuk mengelompokkan 5 indikator itu ke dalam faktor-faktor yang baru…

Kata kuncinya adalah CFA dilandasi oleh teori tertentu. dan seperti variabel yang kamu uji itu jelas bentuknya adalah konfirmatory. Jika eskplanatory..seluruh pertanyaan digabung menjadi satu dan membiarkan SPSS menyeleksi pertanyaan tersebut dan membentuknya ke dalam faktor baru…

Saya sarankan pake aja AMOS

Jika tidak normal, dengan AMOS dapat dicek outliernya..sehingga outlier yang menyebabkan data tidak normal dapat dieliminasi.

 

Jawaban untuk Dewa

Jawaban Khusus @Dewa

Q:

Maaf klo saya punya judul “peranan regulasi pemerintah dan ketidakpastian lingkungan sebagai moderasi pengaruh kompetensi kewirausahaan dan kemampuan perusahaan terhadap kinerja ukm”.

Mohon penjelasan, gimana model kerangka konseptualnya, dan apa bisa kedua variabel moderasi dekaligus dijadikan variabel intervening, lalu rujukan analisisnya apa ? trims

A:

Saya petakan variabelnya :

Regulasi dan ketidakpastian lingkingan sebagai moderator

Kompetensi kewirausahaan dan kemampuan perusahaan sebagai independen

Kinerja UKM sebagai dependen

Apakah bisa regulasi dan ketidakpastian bisa dijadikan variabel intervening ??

Model mediasi dengan menempatkan ketidakpastian sebagai intervening bisa dilakukan seperti ini :

Regulasi –> ketidakpastian lingkungan –> kinerja UKM

Kesimpulan

Pertama.

Kompetensi kewirausahaan ke kinerja UKM

Kemampuan perusahaan ke kinerja UKM

Regulasi ke Kinerja UKM

Ketidakpastian lingkungan ke Kinerja UKM

Model Mediasi

Regulasi –>  ketidakpastian –> kinerja UKM

Model Moderasi

Peran Regulasi dan ketidakpastian lingkungan pada Hubungan Kompetensi Kewirausahaan ke KInerja UKM

Peran Ketidakpastian lingkungan pada hubungan Regulasi ke Kinerja UKM

or

Peran Regulasi pada hubungan ketidakpastian lingkungan ke Kinerja UKM

Untuk rujukan..saya belum sempet punya…kalo ada nanti akan saya publish di sini juga..

Thanks