Category Archives: TEORI JOB INSECURITY

Job Insecurity, Komitmen dan Kepuasan Kerja

DAMPAK Job Insecurity

Munculnya reaksi yang berupa sikap, intensi turnover, komitmen organisasi dan kepuasan kerja yang berkurang atas adanya persepsi job insecurity (Ashford et al., 1989; Rosenblatt dan Ruvio, 1996, dalam Wening, (2005) Chirumbolo (2005) menemukan bahwa ketidakamanan pekerjaan berkorelasi negatif dengan kinerja dan positif dengan absensi.

Read the rest of this entry

Advertisements

Teori Job Insecurity (ketidakamanan kerja)

Definisi

Job insecurity merupakan kondisi ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam situasi kerja yang mengancam. Perasaan tidak aman akan membawa dampak pada job attitudes karyawan, penurunan komitmen, bahkan keinginan untuk turnover yang semakin besar.

Smithson dan Lewis (2000)  mengartikan  job  insecurity  sebagai  kondisi psikologis  seseorang  (karyawan)  yang menunjukkan  rasa  bingung  atau  merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang  berubah-ubah  (perceived impermanance). Kondisi ini muncul karena banyaknya  jenis  pekerjaan  yang  sifatnya sesaat  atau  pekerjaan  kontrak.  Makin banyaknya  jenis  pekerjaan  dengan  durasi waktu yang sementara atau tidak permanen, menyebabkan  semakin  banyaknya karyawan yang mengalami job insecurity.

Job  insecurity  diukur berdasarkan  komponen-komponen  yang  dikemukakan  Greenhalgh  dan  Rosenblatt dan  Ashford,  et  al.  dalam Pasewark  dan  Strawser  (2001)  yaitu  :  (1)  tingkat  pentingnya  aspek-aspek pekerjaan  yang  dirasakan  individu,  (2) kemungkinan  perubahan  negatif  pada aspek-aspek  kerja  tersebut  bagi  individu, (3)  tingkat  kepentingan  yang  dirasakan individu mengenai potensi  setiap peristiwa yang  secara  negatif  dapat  mempengaruhi keseluruhan  kerja  individu,  (4) kemungkinan  munculnya  peristiwa-peristiwa tersebut yang secara negatif dapat mempengaruhi  keseluruhan  kerja  individu, dan  (5)  ketidakberdayaan  yang  dirasakan individu.

Chirumbolo, Areni (2005) menjelaskan beberapa definisi penting mengenai job insecurity di antaranya menurut Hellgren, Sverke dan Isaksson yang membedakan dua bentuk ketidakamanan kerja yaitu ketidakamanan pekerjaan kuantitatif, yaitu khawatir tentang kehilangan pekerjaan itu sendiri, dan perasaan khawatir kehilangan pekerjaan. Sementara ketidakamanan pekerjaan kuantitatif mengacu pada perasaan potensi kerugian dalam kualitas posisi organisasi, seperti memburuknya kondisi kerja, kurangnya kesempatan karir, penurunan gaji  pengembangan (Sverke & Hellgren, 2002).

Kedua sisi yang berbeda dari ketidakamanan kerja yang ada di umum asumsi yang mendasari bahwa ketidakamanan pekerjaan adalah dimaksudkan untuk menjadi pengalaman subjektif, berdasarkan pada persepsi individu dan pemahaman tentang lingkungan dan situasi, dan mengacu pada antisipasi dari peristiwa stres kehilangan pekerjaan itu sendiri (Sverke & Hellgren, 2002).

Sebagai salah satu akan harapkan, “obyektif” ketidakamanan pekerjaan, berasal dari situasi tersebut sebagai organisasi perampingan, restrukturisasi, pemecatan, umumnya mengarah ke yang lebih besar ketidakamanan “subyektif” pekerjaan (Klandermans & Van Vuuren; Hartley et al,. Probst, 2003, dalam Chirumbolo, Areni, 2005).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa job insecurity atau ketidakmanan kerja merupakan persepsi ancaman, peluang dan mengendalikan individu memiliki tanggung jawab tentang mereka di tempat kerja. Ketika ancaman dianggap lebih besar dari peluang, ketika ada dirasakan kurangnya kontrol dan perubahan karakteristik pekerjaan, maka pegawai korban akan mengalami ketidakamanan pekerjaan.

Referensi :

Antonio Chirumbolo (2005). “The Influence Of Job Insecurity On Job Performance And Absenteeism: The Moderating Effect Of Work Attitudes”.

Barbara Beham, Sonja Drobnic, (2010) “Satisfaction with work-family balance among German office workers”, Journal of Managerial Psychology, Vol. 25 Iss: 6, pp.669 – 689

Hellgren, J., M. Sverke, dan K. Isaksson. 1999. ”A Two-Dimensional Approach to Job insecurity: Consequences For Employee Attitudes and Well-being”, European Journal of Work and Organizational Psychology, 8 (2): 179-195.

Pasewark, W. R., dan J. R. Strawser. 1996, “The Determinants and Outcomes Associated with Job Insecurity in a Professional Accounting Environment”, Behavioral Research in Accounting, 8, halaman 91-113.

Smithson, Janet., Suzan Lewis .2000. Is job insecurity changing the psychological contract? Personnel Review ,29(6):1-15.

PENGARUH KETIDAK AMANAN KERJA (JOB INSECURITY)

PENGARUH KETIDAK AMANAN KERJA (JOB INSECURITY) SEBAGAI
DAMPAK RESTRUKTURISASI TERHADAP KEPUASAN KERJA, KOMITMEN
ORGANISASI DAN INTENSI KELUAR SURVIVOR.
Nur Wening
STIE Widya Wiwaha Jogjakarta

KINERJA, Volume 9, No.2, Th. 2005: Hal. 135-147

Abstract
Restructuring is suspected to be influencing perception of job insecurity. The job insecurity will have a negative impact on job satisfaction, organization commitment, and even turnover intention. When insecurity is conceived within someone’s perception, it will lower his or her job satisfaction and also commitment on the company. This research was conducted upon service (bank) and manufacturing companies which had run restructuring in the last four years. It involved 216 respondents with 78.2% of response rate. Simple regression and hierarchical regression analysis were used to analyze the data. An interesting finding of this research is that restructuring conducted in bank and manufacturing companies has been found out to be having no influence on turnover intention. On the other hand, job insecurity perception does not influence job satisfaction, commitment, and turnover intention. In addition, this research came to a conclusion that organization commitment is
an mediating variable between job satisfaction and turnover intention

DOWNLOAD Article-5-V9-N2-05