CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS (introduction)

CONFIRMATORY FACTOR ANALYSIS (ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI) : dengan LISREL dan AMOS

BY Hendry

Pendahuluan

Koefisien Cronbach Alpha merupakan salah satu uji reliabilitas instrument yang banyak digunakan. Metode lainnya adalah Confirmatory Factor Analysis (CFA)

CFA menurut Joreskog dan Sorborn (1993) digunakan untuk menguji unidimensional, validitas dan reliabilitas model pengukuran konstruk yang tidak dapat diukur langsung. Model pengukuran atau disebut juga model deskriptif (Ferdinant, 2002), measurement theory (Hair, dkk, 2006), atau confirmatory factor model (Long, 1983) yang menunjukkan operasionalisasi variabel atau konstruk penelitian menjadi indikator-indikator terukur yang dirumuskan dalam bentuk persamaan dan atau diagram jalur tertentu (dalam Kusnendi, 2008:98)

Tujuan CFA adalah untuk mengkonfirmasikan atau menguji model, yaitu model pengukuran yang perumusannya berasal dari teori. Sehingga, CFA bisa dikatakan memiliki dua focus kajian yaitu : (1) apakah indikator-indikator yang dikonsepsikan secara unidimensional, tepat, dan konsisten; (2) indikator-indikator apa yang dominan membentuk konstruk yang diteliti.

Tentang Reflective Measurement Theory (RMT)

Dalam CFA, model pengukuran mengacu pada RMT. RMT sendiri merupakan model pengukuran yang dikembangkan berdasarkan classical theory. RMT berpandangan bahwa berdasarkan pengertian atau pemahaman terhadap konstruk yang berasal dari teori dapat diidentifikasi. Indikator – indikator terukur sebagai refleksi atau manifest dari Konstruk tersebut.

Model indikator refrektif mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran konstruk merupakan fungsi dari true score ditambah error. Model ini sering disebut juga principal factor model dimana covariance pengukuran indikator dipengaruhi konstruk laten, atau mencerminkan variasi dari konstruk laten (Ghozali, 2008:8). Lawan dari model indikator refrektif adalah model formatif. (penjelasan dari model indikator formatif akan dijelaskan tersendiri)

Sederhananya, Model RMT dicirikan (dalam Ghozali, 2008:8-9) :

  1. Perubahan konstruk laten akan mempengaruhi perubahan pada indikator (Bollen dan Lennox, 1991)
  2. Arah hubungan kausalitas dari konstruk ke indikator (tanda panah dari konstruk ke indikator)
  3. Antar ukuran indikator diharapkan saling berkorelasi (ukuran harus memiliki internal consistency reliability)
  4. Menghilangkan indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna atau arti konstruk
  5. Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indikator
  6. Skala skor tidak menggambarkan konstruk

Proses CFA

Karena CFA mengacu pada model RMT, maka langkah pertama yang dilakukan adalah mengkaji teori tentang konstruk yang akan diukur.

Dari teori, diperoleh konsep teoritis dan definisi konstitutif (definisi secara teoritis) tentang konstruk yang akan diukur.

Selanjutnya dapat diidentifikasi dimensi atau indikator-indikator terukur sebagai refleksi atau manifest dari konstruk.

Contoh

Konstruk Motivasi

Robbins dan Judge (2007:222) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan. Dimensi pengukuran motivasi Sekaran (2003:179) meliputi

  1. Perilaku digerakkan oleh kerja (driven by work),
  2. Tidak suka bersantai (unable to relax),
  3. Tidak suka ketidakefektivan (impatience with inefffectiveness),
  4. Menyukai tantangan (seeks moderate challenge).
  5. Menyukai umpan balik (seeks feedbacks

Gambar 1. Model Pengukuran Motivasi first Order)

Contoh pengukuran di atas adalah model pengukuran First Order. Model pengukuran satu tahap ini dilakukan jika variabel laten yang dteliti di ukur berdasarkan pada indikator-indikator yang bersifat observable (dapat diukur langsung). Namun, jika dimensi pengukuran motivasi di atas masih bersifat latent dan terdiri dari indikator, maka model ini dikenal dengan CFA second order (dua tahap)

Gambar 2. Konstruk Motivasi Second Order

Masing-masing dimensi diukur berdasarkan dua indikator :

  1. Perilaku digerakkan oleh kerja (driven by work/ DW)
  2. Tidak suka bersantai (unable to relax/ UR),
  3. Tidak suka ketidakefektivan (impatience with inefffectiveness/ II),
  4. Menyukai tantangan (seeks moderate challenge/ SC).
  5. Menyukai umpan balik (seeks feedbacks / SF)

Tulisan Selanjutnya :

Contoh CFA dengan AMOS

Contoh CFA dengan LISREL

Referensi :

Kusnendi. 2008. Model-Model Persamaan Struktural. Satu dan Multi-group Sample dengan LISREL. Bandung : Alfabeta

Ghozali. 2008. SEM metode Alternatif dengan Partial Least Square. Edisi 2. Semarang : BP-Undip

About these ads

Posted on December 20, 2011, in Confirmatory Factor Analysis and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 19 Comments.

  1. saya ingin bertanya.. mengapa saat uji validitas perlu di lakukan confirmatory analisis,. bisa dijelaskan pak,..?

  2. Selamat petang, saya ingin menanyakan apakah dalam CFA juga terdapat rumus persamaan seperti yang terdapat dalam regresi (Y = …+…+…)?
    Mohon penjelasannya. Terimakasih

  3. malam pak, apa benar untuk CFA harus menggunakan SEM? berapakah minimal jumlah sample yang diperlukan?

  4. apakah jumlah ukuran sampel untuk confirmatory factor analysis dapat diperoleh dari jumlah variable teramati? kriteria untuk penentuan ukuran sampel apa saja ?
    terimakasih

  5. Bagaimana dengan Regresi Berganda Confirmatory?
    Tolong bantuanya Pak.

  6. Selamat ptg….

    Saya dari Malaysia…sy menggunakan PLS utk kajian saya..dan saya amat berminat dengan buku ini…

    Ghozali. 2008. SEM metode Alternatif dengan Partial Least Square. Edisi 2. Semarang : BP-Undip

    Bagaimana saya mahu mendapatkan mklumat mengenai PLS dan buku ini?

  7. selamat malam pak..
    mohon bantuannya, saya akan mengikuti confirmatory test..
    kira-kira testnya seperti apa ya pak?
    thanks..

  8. anita mahfianti

    bagaimana dengan gambar konstruk eksogen dan endogen y d gabung menjadi satu??
    bagaimana langkah-langkah confirmantory faktor analisis dengan amos??

  9. bagus… sekali info,… mau minta kejelasan bagaimana dengan sampel jenuh dalam penelitian kadang ada yang mendefisikan jumlah 30 ada juga yang 100, sebaiknya bagaimana

  10. uji validitas dan uji reliabilitas dengan menggunakan software spss langkah-langkah confirmantory factor analisis bagaimana dan analisis-nya apa y???
    setelah menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas, menggunakan uji asumsi klasik software Amos ga???/
    langkah-langah uji asumsi klasik apakah sama dengan yang dibuku kalau uji validitas n reliabitas y menggunakan confirmantory factor analisis???
    bagaimana dengan software Amos nya???/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: