Category Archives: Filsafat Ilmu

Kumpulan materi filsafat ilmu

Logika Statistika

Logika statistika sering disebut sebagai logika induktif yang tidak memberikan kepastian, namun memberi tingkat peluang bahwa untuk premis-premis tertentu dapat ditarik suatu kesimpulan mungkin benar dan mungkin juga salah.

Langkah-langlah yang ditempuh dalam logika induktif meliputi :

  1. Observasi dan eksperimen
  2. Munculnya hipotesis ilmiah
  3. Verifikasi dan pengukuhan, yang berakhir pada :
  4. Sebuah teori dan hukum ilmiah

Perbedaan Logika Induktif dengan Logika Deduktif

Penarikan kesimpulan induktif memiliki perbedaan mendasar dengan logika deduktif (seperti matematika). Dalam penalaran deduktif kesimpulan yang ditarik adalah benar jika premis-premis yang dipergunakannya adalah benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah.

Sedangkan dalam penalaran induktif meskipun premis-premis yang digunakannya adalah benar dan prosedur yang digunakan adalah adalah sah, maka kesimpulannya belum tentu benar. Yang dapat dikatakan adalah bahwa kesimpulan itu mempunyai peluang untuk benar.  Dapat dinyatakan bahwa dasar dari statistika adalah ilmu peluang. Ilmu peluang sendiri adalah cabang dari matematika, sedangkan statistika merupakan disiplin ilmu tersendiri.

Tulisan terkait :

Sejarah Awal Statistika

 

Materi Referensi :

Sumarna, C. (2004). Filsafat Ilmu : dari Hakikat menuju nilai. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Suriasumantri, J.S. (2003). Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Metode Ilmiah

METODE ILMIAH

by Hendry

Seperti dijelaskan sebelumnya, metode ilmiah merupakan gabungan dari dua aliran pemikiran yaitu rasionalism dan empirism. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Dalam metode ilmiah, pengetahuan diperoleh melalui penelitian yang sistematis, objektif, terkontrol dan dapat diuji. Metode ilmiah mengacu pada serangkaian prosedur untuk menyelidiki fenomena, memperoleh pengetahuan baru, atau memperbaiki dan mengintegrasikan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode penyelidikan harus didasarkan pada pengumpulan bukti empiris dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran tertentu.

Alur berpikir dalam metode ilmiah didasarkan pada beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam kegiatan ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypotesico-verifikasi ini pada dasarnya memiliki langkah-langkah sebagai berikut (Jujun S. Suriasumantri, 2003) :

  • Perumusan masalah merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
  • Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling terkait. Kerangka berpikir disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang teruji kebenarannya dengan memperhatikan bukti empiris yang relevan dengan permaasalahan.
  • Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan berdasarkan kerangka pikir yang telah dikembangkan;
  • Pengujian hipotesis merupakan mengumpuan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut.
  • Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis ditolak atau diterima.

Source :

Jujun S. Suriasumantri. (2003). Filsafat Ilmu : sebuah pengantar populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

 

Artikel terkait

Sumber Pengetahuan

Secara umum, pengetahuan bersumber dari tiga paham yaitu rasionalisme, empirisme, metode ilmiah dan 1 tambahan yaitu intuisi-wahyu.

Rasionalisme

Aliran ini berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan yang dapat dipercaya oleh akal sehat. Dalam rangka kerjanya, aliran ini mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis-premis yang digunakan dalam membuat rumusan keilmuwan harus jelas dan dapat diterima. Aliran atau paham ini sering juga disebut sebagai idealism atau realism.

Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain Rene Descartes, Baruch Spinoza, dan Gottfried Leibniz. Kelemahan aliran ini adalah manusia tidak dapat memperoleh semua pengetahuan hanya melalui pemikiran. Kita bisa memikirkan sebuah Apel namun kita tidak akan dapat membayangkan rasanya. Otak kita tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan rasa atau membayangkannya.

Read the rest of this entry

Ciri Ilmu Pengetahuan

Melanjutnya pembahasan sebelumnya mengenai hakikat ilmu pengetahuan, maka selanjutnya akan dijelaskan mengenai ciri ilmu pengetahuan.

Surajio (2007) mengutip beberapa pendapat ahli mengenai ciri ilmu pengetahuan antara lain 1 :

Read the rest of this entry

Hakikat Ilmu Pengetahuan

Hakikat Ilmu Pengetahuan

Oleh : Hendry

Asal kata ilmu adalah dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dari kata ini adalah pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia, ilmu sering disamakan dengan sains yang berasal dari bahasa Inggris “science”. Kata “science” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “scio”, “scire” yang artinya pengetahuan.

Read the rest of this entry